Welcome all~~~~ ヾ(^∇^)ノ

DBSKMommy Jessy

 

Hallooooooo~~~~ /lambai-lambaiin tangan ala miss univ/ *plakk

 

disini… sebenernya aku gak tau mau ngisi apa •ԅ(°͡o°”)͡ƪ

tapi setelah dipikir-pikir, aku jadi pengen ngisi tentang…. aku! XD  dan tentu saja juga tentang blog ini ^^

satu-satunya blog yang serius aku urus \(˘▽˘)/

 

Sebelumnya, aku mau nyaranin… bagi antis Jessica Jung SNSD atau DB5K, atau dua-duanya ._.v atauuu membenci JaeSica couple.. sebaiknya OUT! /doh!/

bukan maksud mengusir, tapi daripada kalian enek atau gimana … jadi, lebih baik jangan mampir kesini ^^v soalnya blog ini penuh dengan mereka……

❀◕ ‿ ◕❀

 

Ok, dan bagi readers yang baru datang ataupun sering datang, aku akan sangat senang jika kalian mau memperkenalkan diri kalian di sini  (^Ő^)//

 

Dan bagi readers yang mau kenal aku /eeaaaa/ atau mau tau tentang bias-bias aku, klik di sini. hehe ԅ(ˆ⌣ˆԅ)

 

dan terakhir… bagi readers yang menemukan adanya FF yang di password, kalian bisa minta password nya di sini ! tapi dengan persyaratan : pernah comment di part sebelumnya (oˆڡˆ)o

 

Ok, sekian dari saya. wassalam~~

Jangan lupa tinggalin komen di setiap tulisan yang kalian baca, yaa~~ (✿◠‿◠)ノ

 

Sayonara…… (^ _ ^)/~~

Jessica

 

Arigatou Gozaimasu~~

 

Iklan

[Series] It Was Always You (part 2)

Karena aku masih bingung bagaimana cara memperbaiki hasil tulisan yang kacau di wordpress, untuk sementara aku kasih filenya aja ya. Saran dong bagi yang tau bagaimana cara memperbaiki tulisan yang jadi kacau waktu mengcopas file di word ke sini 😦

 

part 02

Dan tolong tinggalin komentar yang setelah membaca. Komentar kalian sangat berharga 🙂

[Series] It Was Always You

Tittle : It Was Always You

Cast :

  • Jung Jessica
  • Kim Jaejoong

Other Cast :

  • Park Minyoung
  • Kim Myungsoo (L)
  • Im Yoona
  • Kwon Yuri
  • Jung Yunho
  • Park Yoochun

Genre : Angst, Family, Romance

Rated : PG

Length : Series

Disclaimer :

Author’s Note :

Hallo, masih ingat denganku? Kali ini aku membawa ff baru. Aku masih tidak tau mau benar-benar nulis lagi atau ini hanya sekedar selingan. Tapi yang jelas aku sekarang lagi ada mood buat ngetik ini.

Beberapa tahun terakhir ini aku sudah berpaling jauh dari korea. Dan karenanya aku jadi susah banget nemuin feel buat ff, oleh karena itu aku berhenti nulis. Aku tidak punya foto apapun tentang korea. Jadinya aku ga bisa bikin poster. Kalau ada yang mau bikinin, aku terima dengan senang hati. Hehehe

Mungkin akan ada banyak penulisan yang aneh atau abstrak. Aku sudah lupa bagaimana gaya penulisanku sebelumnya. Jadi aku mohon komennya untuk memperbaiki di part berikutnya. Dan lagi aku benar-benar dibuat stress dengan keadaan wordpress. Entah kenapa saat aku mengcopas tulisan dari word hasilnya jadi kayak begini. Plis kasih tau kenapa 😦

Baiklah, mohon bimbingannya dan selamat membaca~ 🙂

Read this too :

Teaser

Baca lebih lanjut

[Teaser]

7f7c11c531a536209febf2b0346d495d

Jung Jessica (17 years)

Putri sulung dari keluarga Jung Ji Hoon dan Kim Tae Hee.

Saat tahun ajaran baru kelas 2 SMA, Jessica pindah ke Seoul. Tujuannya tidak lain adalah menemui orang yang sangat dicintainya sejak kecil, Kim Jaejoong.

Ia mengenal Jaejoong sejak dia kecil. Akan tetapi saat umurnya 6 tahun, ia terpaksa pindah ke Amerika karena bisnis Ayahnya. Jessica sangat teramat menggilai Jaejoong.

Kepindahannya ke Seoul awalnya sangat ditentang kedua orang tuanya. Tapi setelah Keluarga Kim mengatakan akan membantu merawat Jessica selama di Seoul, akhirnya kedua orang tua Jessica mengizinkannya.

e408beead5a8f913b32c5b6b2c8a1596

Kim Jaejoong (18 years)

Putra sulung dari keluarga Kim Kwang Min dan Park Min Young.

Sangat cuek terhadap orang orang di sekelilingnya. Ia mewarisi otak pandai dari ayahnya. Dan poin plusnya, ia juga memiliki wajah tampan dan tubuh yang proporsional.

Jaejoong tau Jessica sangat menyukainya, akan tetapi ia merasa tidak bisa menyukai gadis itu. Ia benci gadis yang bodoh dan kekanak-kanakan.

Ia sangat kesal setiap kali Ibunya mengatur hidupnya atau berusaha menjodoh-jodohkannya dengan Jessica. Meskipun Jaejoong jenius, namun ia tidak cukup pandai memahami hatinya sendiri.

Baca lebih lanjut

[Series] Double Date? (part 15)

JaeSica

 

Tittle  :  Double Date?

Author  :  Kim Jiyeon

Cast  :

  • Jung Jessica
  • Kim Jaejoong
  • Lee Jaejin as Kim Jaejin, other

Other Cast :

  • Shim Changmin
  • Kim Taeyeon
  • Jung Yunho
  • Park Yoochun
  • Kim Junsu

Genre  :  Family, Friendship, Romance, Sad

Rated  :  PG

Length  :  Series

Disclaimer : Jung Jessica, Kim Jaejoong, Shim Changmin and Story line’s mine :p

Author’s Note : Ini baru aja selesai aku ketik, terus langsung aku post. Aku gatau kalau misalnya terdapat banyak typo, soalnya aku ciyusan gada baca ulang ._.v

Happy reading dan jangan lupa tinggalin komen bagi yang baca ^^)/

Oh iya satu lagi… ini mau sampai disini aja atau di lanjut? Aku sudah pusing mikirinnya -_-v terus jadi males ngeprotect. Kemaren-kemaren ada yang minta password, tapi malah ga komen. Ini kan bulan puasa, dan dari pada aku harus ngoceh-ngoceh ga karuan gegara masalah itu, jadi.. biarlah. Terserah saja… ._.

Yang pasti, kalau komen dikit, aku males ngelanjutin .___.v

Last… thanks for your attention~^^

Read this too :

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 | Part 12 | Part 13 | Part 14

 

===[DoubleDate?]===

 

Hyung…” Jaejin memegang tangan Jaejoong erat. Nafasnya naik turun. Ia merogoh sesuatu dari saku celananya. “I-ini-h mi-mi-lik-mu shhh. Be-beritahu ju-juga J-jessica te-tent-ang ka-lung inih.” Ucapnya terputus. Dysnea menyerangnya, dan ia benci itu!

 

Jaejoong menatap Jaejin bingung. Namun ia segera menerima kalung kunci miliknya itu. Menyimpannya di saku celananya.

 

Jaejin menutup matanya masih dengan nafas tersengal. Jaejoong menatap perubahan wajah Jaejin yang semakin memucat. Bibirnya mulai membiru.

 

“Bertahanlah Jaejin. Dokter akan segera datang.” Ucap Jaejoong menenangkan.

 

Jaejin mengangguk kecil, lalu kembali memegang tangan Jaejoong. Mengguncangnya pelan. “E-eomma… A-appa…

 

Jaejoong yang mengerti maksud perkataan Jaejin itu, langsung mengangguk. “Hyung akan menelepon Eomma dan Appa. Kau tenang saja.”

 

Jaejin lagi-lagi hanya mengangguk kecil.

 

Selang beberapa detik, pintu ruangan itu terbuka dengan kasar. Segerombol orang berpakaiaan putih masuk. Jaejoong mundur sedikit ketika orang-orang itu menggerubungi Jaejin.

 

Jaejin masih menutup matanya. Pernafasannya benar-benar kacau. Bibirnya bergetar.

 

“Siapkan ruang ICU!” teriak salah seorang Dokter yang baru selesai mengecek kondisi Jaejin.

 

“Ne!”

 

Jaejoong terdiam di tempat. Ia mengepalkan tangannya kuat. Ruang ICU? Apa ini pertanda buruk?

Jessica dan Taeyeon pun hanya bisa menatap orang-orang berseragam putih itu melewati mereka sambil membawa Jaejin dengan tergesa-gesa.

 

“Jaejin…” Jaejoong menggumam dengan tatapan kosong.

 

===[DoubleDate?]===

 

“Mana Jaejin?!”

 

Jaejoong melangkah ke arah Ibunya yang masih berteriak histeris. Lalu segera memeluknya.

 

Eomma tenanglah…” bisiknya pelan.

 

“Jaejoong…” tubuh Mrs. Kim yang awalnya tegang mulai melemas. “Apa yang terjadi dengan adikmu…” tanyanya pelan.

 

Jaejoong mengeratkan pelukannya. “Dia koma…”

 

Mrs. Kim kembali menangis.

 

“Ia memintaku menelepon Eomma dan Appa…” Jaejoong memberitahu. Mrs. Kim menegang mendengar perkataan Jaejoong tersebut. “Dimana Appa?” tanya Jaejoong kemudian.

 

Mrs. Kim tidak menjawab pertanyaan Jaejoong. Ia kembali menangis. Jaejoong pun ikut menangis –ia tidak tahan lagi menahan perasaannya untuk menangis, terlebih lagi melihat Eommanya yang sangat menangis.

 

Taeyeon ikut memeluk Jessica yang sedari tadi memeluk dirinya sendiri.

 

“Taeyeon-ah…”

 

“Tenang, Sica…” bisik Taeyeon lembut. Ia berusaha bersikap setenang mungkin. Ia tidak mau membuat suasana terlihat semakin menyedihkan. Apalagi kalau harus mengingat Jaejin kelelahan karena berlari bersamanya. Itu membuatnya merasa semakin bersalah.

 

-o0o-

 

Yunho dan Yoochun berlari menyusuri koridor rumah sakit yang sudah cukup familiar untuk mereka. Mereka terus berlari, mengabaikan orang-orang yang menatap mereka berdua.

 

Yunho dan Yoochun menghentikan langkah mereka ketika melihat Jaejoong yang duduk memeluk Ibunya, juga Taeyeon yang berpelukan dengan Jessica.

 

“Bagaimana keadaan Jaejin?” tanya Yunho langsung. Ia langsung pergi ke rumah sakit ketika Jessica memberitahunya tentang keadaan Jaejin.

 

Jessica menggeleng tanpa suara.

 

Yoochun memegang bahu Jaejoong seraya tersenyum hangat. Berharap senyumannya itu bisa menenangkan Jaejoong walau sedikit.

 

“Gomawo…” Jaejoong balas tersenyum tipis. Sedangkan Mrs. Kim masih saja menangis, –tidak menyadari kehadiran Yunho dan Yoochun.

 

“Dimana Junsu Oppa dan Changmin Oppa?”

 

“Mereka ada jadwal kuliah mendadak.” Yoochun menjawab pertanyaan Taeyeon.

 

Taeyeon mengangguk kecil.

 

“Sica…” Yunho duduk disamping Jessica yang sedari tadi hanya diam. Yunho menghela nafas berat, lalu segera menarik Jessica ke pelukannya. “Kita hanya bisa mendo’akan Jaejin dari sini.”

 

Jessica melingkarkan tangannya ke pinggang Yunho seraya mengangguk.

 

Yoochun dan Taeyeon berpandangan, lalu menghela nafas panjang. Mereka tidak tahu harus berbuat apa disaat seperti ini.

 

Suara pintu yang terbuka otomatis langsung mengundang perhatian orang-orang yang berada di depan ruang ICU itu. Mrs. Kim pun langsung berdiri tegap. Mendatangi Dokter yang baru keluar bersama perawat-perawat dari ruang ICU tersebut.

 

“Uisa, bagaimana keadaan anak saya?”

 

Dokter itu melepaskan masker dan sarung tangannya. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya bersuara. “Saya tidak bisa berkata banyak sementara keadaan pasien berada di tengah-tengah kemungkinan.”

 

Mulut Mrs. Kim menganga tidak percaya. Jaejoong, Jessica, Taeyeon, Yunho, dan Yoochun pun tidak kalah kaget mendengar apa yang dikatakan dokter tersebut. “Apa maksud anda?”

 

“Saya tidak bermaksud mengatakan hal yang buruk. Tapi saya harap anda siap menerima berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan terburuk.” Ujar Dokter itu kemudian permisi untuk pergi.

 

Mrs. Kim terdiam mematung.

 

Eomma…”

 

Sebelum Jaejoong sempat menyentuh bahu Ibunya itu, Ibunya langsung berbalik. Wajah sembab dan mata bengkak itu terlihat tidak bersahabat.

“Disaat seperti ini… dimana Ayahmu?!” teriaknya tiba-tiba. Membuat Jaejoong melangkah mundur.

 

Jaejoong baru saja akan membuka mulutnya, tapi Ibunya sudah berlari masuk ke ruangan Jaejin. Ia menghela nafas berat melihatnya.

 

Jessica dan yang lainnya terdiam melihat kejadian saat itu. Sepertinya Mrs. Kim masih sangat sensitive.

 

Appamu tidak bisa dihubungi?” Yunho membuka mulut setelah Jaejoong kembali menurunkan ponselnya dari telinganya untuk kesekian kalinya.

 

Jaejoong menoleh, lalu mengangguk lemas.

 

“Masih di Tokyo?”

 

“Entahlah.” Sahut Jaejoong pendek. “Ia tidak mengangkat teleponku sejak tadi.” Lanjutnya pasrah.

 

“Jadi bagaimana?” tanya Yoochun prihatin.

 

Jaejoong memaksakan sebuah senyum kecil. “Sebaiknya kita masuk dulu melihat keadaan Jaejin.” Ucapnya mengalihkan pembicaraan.

 

Yunho dan Yoochun berpandangan sesaat, lalu mengangguk setuju. Jessica dan Taeyeon pun melakukan hal yang sama.

 

“Jaejoong-ah, bagaimana?”

 

Jaejoong tersenyum, lalu melangkah ke arah Eommanya yang menggenggam tangan Jaejin erat. “Appa dalam perjalanan.” Bohongnya.

 

Mrs. Kim tersenyum mendengarnya. “Baguslah.”

 

Jessica melangkah mendekat, melihat keadaan Jaejin lebih jelas. Wajah pucat pasi, bibir memutih. Terlihat seperti mayat yang masih bisa bernafas.

Ia berusaha kuat untuk tidak kembali menangis. Ia tahu, jika ia menangis, itu hanya semakin memperburuk suasana.

 

“Jessica…”

 

Jessica menoleh ke arah Mrs. Kim yang memegang lengannya.

 

“Ne, ahjumma?”

 

“Bisakah kau menemani Ahjumma disini sampai Jaejin sadar?” pinta Mrs. Kim seraya tersenyum lemah.

 

Jessica terdiam sesaat. Ia menatap Yunho yang hanya dibalas Oppanya itu dengan anggukan kecil.

“Eo, tentu Ahjumma.” Sahutnya sambil tersenyum.

 

Mrs. Kim tersenyum lebar mendengarnya. “Gomawo, Jessica…”

 

Jessica hanya mengangguk dengan senyuman yang masih menghiasi wajah sedihnya. Jaejoong hanya diam melihat hal itu.

Ia menatap Jaejin dan lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang. Ia lelah melihat wajah Jaejin yang tidak berdaya ini. Ia saja lelah, apalagi Jaejin yang menjalaninya? Shh, ia tidak sanggup kalau harus memikirkan sejauh itu.

 

Dering suara ponsel berbunyi. Semua mata di ruang itu menatap ke arah sumber suara. Dan arah tatapan mereka semua tertuju pada Yoochun.

Yoochun terkekeh kecil. “Baiklah, aku permisi untuk hal ini.” Katanya sambil memperlihatkan ponselnya yang terus berkedip-kedip.

 

Yunho hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan salah satu sahabatnya itu.

 

Baru saja Yoochun keluar, tiba-tiba ia kembali masuk. Ia langsung berjalan ke arah Yunho dan membisikkan sesuatu. Mata Yunho membulat lebar bersamaan mendengar apa yang dikatakan Yoochun padanya.

 

Setelah itu, Yunho dan Yoochun menatap Jaejoong dan Mrs. Kim. Yoochun mengusap tengkuknya canggung. “Emm Ahjumma, tiba-tiba saja kami ada urusan mendadak. Boleh kami permisi?”

 

Jaejoong mengerutkan keningnya curiga. “Ada apa?”

 

“Hari ini…giliran kami mempresentasikan hasil penelitian kami minggu lalu. Kami lupa. Sepertinya kami harus segera kembali ke Universitas sekarang.” Jelas Yoochun dengan nada menyesal. “Mianhae…”

 

Mrs. Kim tersenyum mengerti. “Hm, tidak apa. Pergilah… Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk menjenguk Jaejin.” Ucapnya tulus.

 

Yoochun dan Yunho tersenyum, lalu segera pergi. Suasana pun kembali hening sepeninggalnya Yunho dan Yoochun.

 

-o0o-

 

Junsu menyenggol bahu Changmin pelan. “Hei, sebenarnya apa yang kau lakukan di Amerika bersama Jessica.”

 

“Tidak ada…”

 

“Ayolah Changmin-ah… aku sungguh begitu penasaran.”

 

“Tidak perlu penasaran. Tidak ada hal yang istimewa terjadi.”

 

Junsu cemberut mendengarnya. “Lalu apa yang kalian lakukan kalau tidak ada yang istimewa?” cibirnya.

 

“Kami hanya menemui orang tua kami.” Sahut Changmin tanpa sadar. Junsu terbelalak kaget mendengarnya. Changmin pun ikut terbelalak, baru menyadari apa yang ia katakan.

 

“Ada masalah apa?” tanya Junsu pelan. “Apa kau…”

 

Changmin menunduk. “Eo. Aku dan Jessica sudah menjelaskan semuanya kepada orang tua kami. Oleh karena itu, sekarang kami benar-benar sudah selesai.” Jelasnya pelan, dalam. Sebelum Junsu sempat bertanya apapun.

 

Mulut Junsu terbuka. Ia ingin berkata sesuatu, tapi tidak satupun kata yang keluar. Akhirnya ia memilih untuk diam.

Dan setelahnya, mereka tidak berbicara apapun lagi. Yang terdengar hanya suara angin yang menemani kegiatan mereka di depan Laptop.

 

-o0o-

 

“Ada apa? Kenapa kau berbohong?” Yunho mendengus kesal. Yoochun memperlihatkan senyuman tiga jari. Mengingat cara dia tadi mengelabui Jaejoong, Mrs. Kim, Jessica dan Taeyeon. Tadi ia hanya membunyikan ringtone ponselnya –seolah ada yang meneleponnya, padahal sebenarnya tidak.

 

“Aku sedang penasaran dengan satu hal besar.” Ucap Yoochun dan kali ini expresi wajahnya sudah berubah serius.

 

“Apa?” tanya Yunho malas.

 

Yoochun mengangkat ponselnya. “Lihat ini!”

 

Mata Yunho menyipit, membaca kata demi kata yang ada di layar ponsel Yoochun tersebut.

 

“Ini…”

 

“Jessica dan Changmin benar-benar berakhir. Tujuan perginya mereka berdua ke Amerika sesuai dengan apa yang kita prediksikan. Bukan untuk liburan atau semacamnya.” Jelas Yoochun cepat. “Kita harus menemui Changmin. Memaksanya menceritakan semua yang terjadi di Amerika mulai A sampai Z. Aku harus tahu!” lanjutnya tegas.

 

Yunho hanya bisa menghela nafas pasrah melihatnya. Inilah Park Yoochun. Kalau dia sudah penasaran terhadap satu hal yang sudah menarik perhatiannya, sekalipun ada orang yang berada diantara hidup dan matipun akan ia abaikan demi menyelesaikan rasa penasarannya. Tsk.

 

==[]==

 

Waktu sudah berganti pagi. Semalaman ini, Jaejin tidak menunjukan tanda-tanda kehidupan sama sekali kecuali nafas pelannya yang teratur.

Mr. Kim pun belum menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Berkali-kali Mrs. Kim menanyai Jaejoong, dan selalu dibalas Jaejoong dengan berbagai alasan yang pada akhirnya menimbulkan kecurigaan pada Mrs. Kim.

 

“Jaejoong-ah…”

 

EommaAppa pasti kemari. Eomma tenanglah. Mungkin ada hal yang membuat Appa terlambat kemari.” Ucap Jaejoong akhirnya.

 

Mrs. Kim mendesah kasar. “Selalu seperti ini. Kenapa Appamu selalu lebih mementingkan pekerjaannya?!” serunya marah.

 

Jaejoong dan Jessica berpandangan, dan lagi-lagi hanya bisa mengeluarkan nafas panjang mereka yang terdengar sangat lelah. Taeyeon sudah pulang sejak tadi malam.

 

Jaejoong mempersilahkan seorang perawat masuk setelah sebelumnya perawat itu mengetuk pintu.

Yah, sejak tadi malam sesungguhnya setiap 2 jam sekali perawat-perawat itu datang secara bergantian untuk mengecek keadaan Jaejin. Mengganti impus, memeriksa pasokan oksigen Jaejin, memeriksa suhu tubuh Jaejin, dan semacamnya.

 

Tidak lama setelah perawat itu keluar, pintu ruang ICU Jaejin terbuka dengan cukup kasar. Membuat Mrs. Kim, Jaejoong, dan Jessica terlonjak kaget.

Mereka bertiga langsung menatap ke arah pintu dan mendapati seorang lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan berdiri di depan pintu itu dengan nafas memburu.

 

Appa?” Jaejoong berdiri, lalu segera mendatangi Appanya itu. “Appa, kenapa kau ba-” perkataan Jaejoong terhenti ketika melihat Ayahnya mengangkat sebuah jimat kecil yang digenggam Ayahnya

 

Mrs. Kim dan Jessica pun terdiam menatap Mr. Kim.

 

“Setelah Appa membaca pesanmu, Appa langsung pergi ke kuil.” Jelas Mr. Kim masih dengan nafas tidak beraturan.

 

Jaejoong mengambil jimat kecil itu dan baru menyadari tangan Ayahnya begitu dingin. “Appa… kau…”

 

Appa tidak bisa tenang setelah kau mengirimi pesan tentang Jaejin yang sedang koma.” Mr. Kim kembali bersuara lalu melangkah ke tempat Jaejin terbaring.

 

Mrs. Kim yang berniat marah dengan Mr. Kim yang tidak kunjung datang, akhirnya mengurungkan niatnya. Ia langsung berdiri dan memeluk suaminya itu.

 

-o0o-

 

“Bisakah kita lupakan ini?”

 

Yoochun mendengus. Ia tidak puas. Belum puas. Benar-benar belum puas. Penjelasan Changmin, menurutnya masih belum sempurna, –masih ada yang disembunyikan Changmin.

 

Changmin menggerutu pelan. Menyadari fakta bahwa Yoochun tidak akan menutup mulut untuk berhenti bertanya padanya.

 

“Shim Changmin!” seru Yoochun nyaring. Membuat Yunho, Junsu, dan Changmin sendiri terlonjak kaget.

“Kau bilang kau mencintainya, lalu kenapa kau berhenti sampai disini?! Kenapa kau menyerah semudah ini?”

 

Hening.

 

Changmin terdiam. Ia tahu. Ia ingat bahwa ia pernah berkata begitu, tapi…

“Aku berhenti bukan karena menyerah. Tapi…” helaan nafas berat keluar dari mulut Changmin. Ia mendongak, menatap Yoochun sungguh-sungguh. “Aku berhenti karena aku berusaha untuk mengerti. Mengerti bahwa ia tidak pernah menyukaiku.” Lanjutnya dengan senyum miris.

 

Kali ini, giliran Yoochun yang terdiam. Perkataan Changmin yang terkesan sangat serius dan menyakitkan itu, berhasil membuatnya terdiam. –merasa bersalah.

 

“Kalau kau memang menyukainya, kau harus berusaha mendapatkannya. Melakukan apapun supaya kau bisa mendapatkan hatinya.” Ujar Yunho dengan senyum tipis.

 

Changmin menatap Yunho, ikut tersenyum tipis. “Ada kalanya kita harus menerima keputusan seseorang yang tidak pernah bisa menyukai kita, padahal kita sudah melakukan berbagai usaha. Dan di saat seperti itu, kita hanya bisa melepaskannya. Berharap ia mendapatkan kebahagiaannya, karena kita tahu ia tidak bahagia dengan kita.”

 

Yunho, Yoochun, dan Junsu terdiam mendengar perkataan Changmin saat itu. Sangat dewasa. Mereka tidak habis pikir kenapa Changmin yang dulunya terkenal sangat manja dan egois, sekarang berubah menjadi lebih dewasa dan lebih mementingkan orang lain.

 

“Aku sudah berusaha. Dan hasilnya tetap seperti ini. Oleh karena itu aku mengambil cara terakhir,” kata Changmin serak. Ia menangis. Ia tidak tahan lagi menahan rasa sakit di hatinya. “Yaitu, melepaskannya.”

 

Tiba-tiba saja Yoochun langsung memeluk adik sepupunya itu. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya bersuara. “Aku mengerti. Aku harap ini menjadi yang terbaik untuk kalian berdua.”

 

Changmin tidak menyahut. Hanya tangisannya lah yang terdengar di ruang apartement Yoochun itu.

Yoochun yang mendengar tangis Changmin saat itu, semakin merasa bersalah. Merasa bersalah karena telah memaksa Changmin untuk menceritakannya.

 

-o0o-

 

Jaejoong terjaga dari tidurnya ketika mendengar suara deru nafas seseorang yang terdengar sangat tidak teratur.

Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba membiasakan penglihatannya. Ia menyipitkan matanya, mencoba melihat lebih jelas ke arah orang yang menimbulkan suara deru nafas tidak beraturan itu.

 

Selang beberapa detik, ia langsung berdiri. Berlari ke tempat Jaejin yang berada tidak jauh darinya.

 

“Jaejin-ah…” panggilnya pelan. Tangannya langsung menggenggam tangan Jaejin erat.

 

Tidak ada sahutan. Hanya terdengar deru nafas yang semakin lama semakin tidak teratur. Bola mata Jaejin terlihat bergerak-gerak di balik kelopak mata. Akan tetapi, sampai detik ini, mata itu belum juga terbuka, –masih menutup rapat.

 

“Jaejin-ah… kau bisa mendengarku?” bisik Jaejoong, semakin mengeratkan genggaman tangannya.

 

Oppa…” suara serak seseorang membuat Jaejoong berbalik.

Ia diam. Mendapati wajah kacau Jessica di belakangnya yang terlihat ketakutan.

 

“Ada apa? Jaejin … kenapa?”

 

Jaejoong tersenyum kecil. “Tolong… Hubungi Appa dan Eommaku. Kemudian panggilkan Dokter.” ujarnya, tanpa menjawab pertanyaan Jessica.

 

Tanpa bertanya apapun lagi, Jessica langsung pergi memanggil dokter, menuruti perkataan Jaejoong. Lupa bahwa di ruang itu ada bell darurat.

 

Jaejoong kembali menatap Jaejin. Bola mata di balik kelopak mata itu masih bergerak-gerak. Seolah-olah berusaha untuk membuka mata, namun tidak bisa. Melihat hal itu, membuat Jaejoong ingin menangis. Kenapa terlihat sangat menyakitkan?

 

“Bertahanlah, Jaejin. Hyung tahu kau kuat.” Ucap Jaejoong, memberikan semangat.

 

Tidak lama setelah itu, sekumpulan orang berseragam putih –lagi-lagi– datang dengan gerakan terburu-buru.

 

“Tolong, mundur sebentar.” Seru seorang perawat pada Jaejoong. Jaejoong menurut. Ia mundur beberapa langkah. Menatap adiknya yang dikelilingi orang-orang berseragam putih itu.

 

Tubuh atas Jaejin sudah di penuhi berbagai selang kecil putih bening. Alat pendeteksi jantung, alat pendeteksi denyut nadi, infus, oksigen, dan benda-benda semacam itu, semuanya membelit di tubuh Jaejin.

 

Meskipun deruan nafas Jaejin masih tetap sama, tapi detak jantungnya justru semakin memelan. Dokter masih sibuk menempelkan defibrillator, sementara para perawat yang lain ada yang bertugas mengatur infusion pump, ada yang bertugas memberikan berbagai alat yang di perlukan, dan hal yang lainnya.

 

Hidung Jaejin yang tadinya hanya dipasangi ventilator, untuk membantu mengontrol pernapasan paru-parunya, sekarang sudah diganti dengan alat bantu untuk memberi Oxygen. Sesuai perintah dokter saat itu.

 

Tidak lama setelah itu, Mr. Kim dan Mrs. Kim datang. Mereka memang menginap di rumah atas permintaan Jaejoong. Karena menurutnya Ayahnya terlihat sangat kelelalahan.

 

“Bagaimana keadaan Jaejin sekarang, Jaejoong?” tanya Mrs. Kim langsung, sangat panik.

 

Jaejoong menggeleng pelan. Jessica juga melakukan hal yang sama ketika Mrs. Kim beralih menatapnya.

 

“Kami-sama, tolong lindungi Jaejin.” Gumam Mr. Kim pelan. Mrs. Kim, Jaejoong, dan juga Jessica secara bersamaan menatap Mr. Kim.

Mrs. Kim langsung memeluknya, sementara Jessica dan Jaejoong justru menundukkan kepala mereka. Berdoa di dalam hati. Mengharapkan hal yang sama pada dasarnya. –keselamatan Jaejin.

 

Deruan nafas Jaejin yang mulanya keras, mulai memelan. Suara dari bed side monitor pun mulai memelan.

Dokter dan para perawat disana saling bertatapan. Secara bersamaan mereka menghela nafas panjang yang terkesan pasrah.

 

“Jaejoong Hyung…

 

Suara pelan Jaejin yang tiba-tiba itu, membuat semua yang ada di ruangan menatap ke arah Jaejin.

 

Jaejoong langsung berlari ke tempat Jaejin, menggenggam telapak tangan Jaejin. “Hyung disini, Jaejin…” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Mata Jaejin terbuka dengan perlahan. Ia tersenyum kecil ketika melihat Jaejoong, lalu ia beralih menatap satu-persatu orang-orang yang berdiri di belakang Jaejoong. Ayahnya, Ibunya, dan… Jessica.

 

“Jessica…”

 

Jessica tidak berkata apapun. Ia hanya mendekati Jaejin dengan perlahan. Diam di samping Jaejoong.

“Ya… aku disini. Bertahanlah, Jaejin.” Ucap Jessica dengan senyum tipis.

 

Jaejin lagi-lagi hanya tersenyum kecil. Ia melepaskan genggaman tangan Jaejoong, lalu beralih memegang tangan Jaejoong. Dengan gerakan yang sangat pelan, ia meletakkan tangan Jaejoong di atas tangan Jessica. Menyatukan kedua tangan hangat dua orang di sampingnya itu.

 

“Jika aku sudah tidak ada, kalian harus bersama…” bisik Jaejin sangat pelan.

 

Jaejoong menggeleng pelan. “Jangan berkata yang aneh-aneh, Jaejin-ah…”

Jessica mengangguk. Air mata sudah mengalir di pipi mulusnya. Ia tidak sanggup. Ini kali pertama ia berhadapan langsung dengan orang yang sedang dalam keadaan seperti Jaejin saat ini.

 

Jaejin beralih menatap Ayah dan Ibunya yang kini berada di sisi samping tubuhnya. “Aku sangat menyayangi kalian…” ucapnya pelan.

 

Mrs. Kim mengangguk dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Mr. Kim juga mengangguk.

 

“Maafkan aku…” ucapnya lagi, kali ini senyumnya terlihat sangat sedih. “aku selalu menyusahkan kalian …”

 

Kali ini, Jaejoong, Jessica, Mr. Kim dan Mrs. Kim langsung menggeleng.

 

“Kau tidak pernah menyusahkan kami, Jaejin-ah…” ucap Mrs. Kim parau.

 

Kelopak mata Jaejin mengatup untuk beberapa detik, lalu kembali terbuka. “Aku tidak ingin mati…” ucapnya pelan, sangat pelan. Seolah-olah ia mengatakan itu untuk dirinya sendiri. Wajahnya terlihat sangat sedih, seakan ia sedang menampung berjuta-juta masalah dalam hidupnya.

 

“Jaejin, jangan berkata yang tidak-tidak!” bentak Jessica tiba-tiba.

 

Jaejin tersenyum kecil. Dengan gerakan yang sangat pelan, kedua kelopak matanya mulai menutup. Setetes air mata jatuh, menelusuri pipi pucatnya.

 

Dan seakan tidak cukup membuat semua orang di ruangan itu terkejut, mesin pendeteksi detak jantung Jaejin justru berbunyi nyaring. Suaranya datar. Memekikkan telinga siapapun yang mendengarnya saat itu.

Disaat bersamaan, suara tangis Mrs. Kim langsung pecah. Mr. Kim memeluk Mrs. Kim erat, mencoba menenangkan istrinya tersebut.

Jaejoong dan Jessica terdiam mematung. Tangan mereka masih bergenggaman satu sama lain. Tatapan mereka kosong. Air mata mereka mengalir tanpa suara, menyesakkan dada.

 

“Jaejin…” suara Jaejoong terdengar mengambang. Tangan Jaejin yang berada diatas tangannya semakin dingin.

 

Jessica menggerakkan kepalanya. Menatap mesin pendeteksi jantung yang saat itu hanya menunjukkan garis lurus datar. Kemudian ia kembali menatap Jaejin. Tidak perlu beberapa detik, air matanya kembali mengalir deras.

“Jaejin-ah…” bisiknya tertahan.

 

Sedangkan Dokter dan para perawat yang berada di sana, hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Menatap miris pemandangan di hadapan mereka.

 

 

 

===[DoubleDate?]===

 

 

[Mini-Series] Don’t Forget Me (part 2)

Dont

Tittle      :  Don’t Forget Me

Author  :  Kim Jiyeon

Main Cast :

  • Jung Yunho
  • Jung Jessica
  • Kim Jaejoong
  • Kwon Yuri, Other

Genre    :  Angst, Family, Romance

Rated    :  PG

Length  : Mini-Series

Disclaimer : Cast and story line’s mine ^^v terinspirasi dari sebuah film yang berhasil buat aku nangis jungkar-balik(?)

Author’s Note : What? Entah harus nulis apa, mungkin cuma mau bilang…

Happy reading? Jangan lupa komen? Enjoy this story?Warning Typos? Haduuuhh, selalu kata-kata macam itu. Kalian pasti udah bosan, kan? -_- karena jujur aja, aku sendiri juga udah bosan. #garuk tanah

Jangan nanya kenapa alurnya cepat-.-v soalnya aku emang nargetin ff ini ga lebih dari 5 chapter ._.

Read this too :

Teaser | Part 1

 

===[]===

 

Yunho mendesah kasar. Ia sudah tidak tahan lagi. Semakin lama ditahan, perasaannya menjadi semakin kesal. Amarahnya sudah berada di ujung tanduk.

 

“Don’t say.”

 

“I have a meeting 15 minutes again.”

 

Yunho menarik nafas dalam. “We have a couple minutes, before … Jessica finishing her story.” Katanya penuh penekanan.

 

Yonghwa menatapnya datar, lalu menghembuskan nafas. “We can talk about this in the other time.”

 

“No. Just for a minutes, Dad!” tekan Yunho semakin kesal.

 

Jessica hanya bisa diam melihat kejadian dihadapannya saat ini. Begitu menyakitkan…

 

“Yunho…” Katie menggenggam tangan Yunho yang duduk di seberangnya. Namun, langsung di tepis Yunho. Yunho malah meninju meja makan yang sedang mereka tempati saat ini.

 

“Allright, I gotta go.” Yunho berdiri dengan expresi marah. Ia menatap Ayahnya sesaat, lalu beralih menatap Jessica yang duduk di sampingnya.

Valerie, mari kita pergi ke suatu tempat.” Serunya yang langsung dibalas Jessica dengan anggukan kecil.

 

Katie hanya bisa menghela nafas panjang melihat perbuatan putranya tersebut. Sementara itu, selang beberapa menit kepergian Yunho dan Jessica, Yonghwa pun juga pergi untuk menghadiri rapatnya. –meninggalkan Katie bersama Fabien.

 

-o0o-

 

Jessica melangkahkan kakinya pelan. Tidak berusaha untuk mengejar langkah kaki kakaknya yang begitu cepat yang berada di depannya.

 

Yunho berbalik menyadari Jessica yang tidak berada di sampingnya. Ia menghela nafas berat melihat Jessica berjalan sangat pelan sambil menendangi kerikil-kerikil kecil yang ia lalui.

 

Valerie…” panggil Yunho lembut. Jessica mendongakkan kepalanya.

 

“Yea?”

 

“Kau mau aku mengajakmu kemana?”

 

Jessica tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya.

Yunho yang melihat hal itu, langsung melangkahkan kakinya menuju Jessica.

 

“Are you okay?”

 

Jessica lagi-lagi mengangguk kecil. Yunho mendesah berat. Ia kembali menatap Jessica, lalu meletakkan lengannya di bahu Jessica –merangkulnya.

 

“You mad?”

 

Jessica menatap Yunho yang ternyata sedang menatap ke arah lain.

“Why you think Daddy doesn’t wanna like.. listen to me?” tanyanya pelan.

 

Yunho kembali menatap Jessica. “He loves you.”

 

“So?” Jessica menghela nafas sesaat. “Can you love someone and not want to spend time with them?” tanyanya lagi.

 

Yunho terdiam. Ia menatap ke arah lain untuk menghindari tatapan Jessica. Ia benci menyadari bahwa pernyataan Jessica itu benar.

 

“Kita ke rumah ku saja.” Kata Yunho setelah melewati menit-menit penuh kesunyian.

 

-o0o-

 

“Yunho kau sudah pul-” Jaejoong menghentikan ucapannya. “Jessica?”

 

“Hei, Jaejoong.” Sapa Jessica dengan senyum ramah.

 

Jaejoong mengangguk, membalas senyum Jessica saat itu. “Hai.”

 

Yunho melepaskan mantel tebal yang dipakai Jessica saat itu, lalu menggantungnya di salah satu gantungan baju yang ada di rumahnya.

 

“Duduklah, akan ku buatkan coklat hangat.” Ucap Yunho kepada Jessica. Jessica mengangguk,  menuruti perkataan Yunho.

 

Jaejoong menatap Yunho yang sudah pergi ke dapur, lalu menatap Jessica. “What happen with him?” tanyanya bingung, dan hanya dibalas Jessica dengan mengangkatkan bahu.

 

Jaejoong menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu segera mengambil tempat di depan Jessica. “There’s a problem… again?”

 

Kali ini Jessica mengangguk. Dengan senyum kecil yang menghiasi wajah cantiknya. “Just a little problem. Don’t worry.” Jawabnya.

 

Jaejoong mengangguk meskipun sebenarnya ia tidak mengerti. Tidak lama setelah itu, bel rumah mereka berbunyi. Jaejoong segera bangkit dan membuka pintu.

 

“Hei, ku kira kau tidak jadi kemari.” Seru Jaejoong dengan nada menyindir.

 

“Maaf, tiba-tiba saja aku ada urusan mendadak.”

 

“What? Rejected a weird man yesterday?” cibir Jaejoong seraya memberi jalan masuk untuk gadis di depannya. –Seul Gi.

 

Seul Gi tertawa, lalu menggeleng. Ia menghentikan tawanya ketika melihat seorang gadis remaja duduk di ruang tamu. Gadis yang saat ini sedang menatapnya.

 

Jaejoong langsung menyela. “Ah, she is Yunho’s little sister.”

 

“Little sister?”

 

Jaejoong mengangguk. “This’s Jessica,” ujarnya. “and Jessica, this Seul Gi. My friend, and… Yunho’s girlfriend, too.” Lanjutnya memelan ketika menyebutkan kata ‘Yunho’s girlfriend’. Ia takut kalau Jessica masih tidak suka kalau kakaknya berhubungan dengan gadis lain. –yea, Jessica takut perhatian Yunho padanya berkurang.

 

Jessica tersenyum, lalu menjabat tangan Seul Gi yang terulur.

 

“Nice to meet you.”

 

Jessica mengangguk sambil tersenyum tipis. “Yea. Nice to meet you, too.”

 

Tidak lama kemudian, Yunho kembali dengan secangkir coklat hangat. Jas hitamnya pun sudah berubah menjadi pakaian santai.

 

“Ah, Seul Gi?” kaget Yunho ketika melihat Seul Gi ada di rumahnya.

 

Seul Gi mengangguk lalu berbicara. “We,” ia menunjuk dirinya dan Jaejoong. “Make a promise to study together today. You wanna join?”

 

Yunho mengangguk, lalu menggeleng. Kemudian segera mengambil tempat untuk duduk di samping Jessica. Mengabaikan expresi bingung Seul Gi dan Jaejoong.

“Drink this.” Ucapnya pada Jessica. Jessica menurut.

 

“After this, you must back to home. A couple minutes ago, Mom was call me.”

 

Jessica mengangkat wajahnya, kemudian menggeleng kecil. “I wanna sleep here tonight.”

 

Yunho menggeleng tegas. “No, Valerie. Mommy will be worried.”

 

“But I…”

 

“Fine,” Yunho menyerah. Ia tidak sanggup melihat wajah melas Jessica. “Aku akan membujuk Mommy.”

 

Jessica tersenyum mendengarnya.

 

Jaejoong dan Seul Gi hanya diam melihat interaksi kakak-beradik itu.

 

-o0o-

 

“Dia sudah tidur?”

 

Yunho mengangguk kecil.

 

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Jaejoong hati-hati.

 

Yunho mengusap wajahnya. “Orang itu lagi-lagi bertingkah seenaknya.”

 

Jaejoong mengerti, namun memilih untuk diam. Berbeda dengan Seul Gi yang diam karena ia sama sekali tidak mengerti.

 

“Dia bahkan tidak bisa mendengarkan cerita Jessica,” Lanjut Yunho dengan wajah angkuh yang terlihat sangat kesal. “haven’t time just for a couple minutes for her daughter.”

 

“Dia… siapa?” Seul Gi membuka mulut. Raut wajahnya terlihat sangat gugup.

 

Yunho menatap Seul Gi, lalu segera melayangkan pandangannya ke segala arah. Wajahnya tanpa expresi.

Seul Gi menggigit bibirnya. Sekarang ia merasa bersalah karena telah menanyakan hal yang sepertinya tidak ingin Yunho beritahukan.

 

“My Dad.” Seru Yunho sambil mendesah panjang. Kemudian ia segera pergi, –pergi keluar rumah.

 

“Apa aku salah bertanya?” tanya Seul Gi pada Jaejoong.

 

Jaejoong tersenyum kecil. “I don’t know,” sahutnya pelan. “Tapi, dia memang tidak terlalu suka membicarakan masalah keluarganya.”

 

Seul Gi kembali menggigit bibir bawahnya. Kemudian mengangguk kecil.

 

===[]===

 

Yunho melangkahkan kakinya. Menyusuri koridor Universitasnya dengan tergesa-gesa.

 

“Hei!”

 

Seruan nyaring seseorang membuatnya berbalik. Yunho mendesah panjang ketika mendapati banyaknya buku yang berhamburan di lantai. Ia segera berjongkok, membantu memunguti buku-buku tebal milik gadis yang baru saja ia tabrak.

 

“I’m sorry.” Seru Yunho sambil menyerahkan buku terakhir yang ia pungut pada gadis itu.

“Seul Gi?” serunya kaget ketika melihat bahwa gadis yang ditabraknya itu adalah Seul Gi.

 

“Kau mau kemana? Kenapa terlihat begitu tergesa-gesa?”

 

Yunho tersenyum tipis. “I make a promise to Jessica.”

 

Seul Gi mengangguk-anggukan kepalanya.

 

“You’re In?”

 

“Me?” Seul Gi balik bertanya. “Is it fine?”

 

“Sure. Jaejoong will be there, too.”

 

“Ah, allright.” Ucapnya setuju.

 

-o0o-

 

Seul Gi memukul pelan bahu Yunho. “So, this is a party for Jessica?”

 

Yunho mengangguk. “My mom ask me to celebrate this.” Balasnya.

 

“Why you didn’t tell me?” Seul Gi mendesis sebal. “I should borrow something for her.”

 

Yunho terkekeh pelan, kemudian dengan gerakan tiba-tiba, ia mencium bibir Seul Gi. “Tidak perlu. Kau sudah menjadi hadiah di sini.”

 

“Wh-what?”

 

“Yunho.” Sapaan Katie berhasil menginterupsi kegiatan Yunho dan Seul Gi.

 

“Yes, Mom?”

 

Katie duduk di sisi lain di samping Yunho. “Look at her,” serunya dengan mata menatap ke arah Jessica. “Mom worried. I’m concerned that her Dad isn’t gonna come to her show tonight.”

 

Mengerti dengan maksud perkataan Ibunya itu, Yunho ikut mengangguk. “Me too.”

 

“I was hoping for some reassurance.”

 

Yunho diam. Ia masih memandangi Jessica,

 

“She’s gonna be heartbroken.”

 

“Listen,” Yunho mendesah sesaat, lalu meneguk minumannya. “I’ll get him there.”

 

“You will? Really?”

 

Yunho mengangguk. “Yes, Mom. I’ll get him there.”

 

“Thanks Yunho.” Seru Katie lalu mencium pipi putranya itu.

 

Seul Gi melirik kegiatan Ibu dan Anak itu dalam diam.

 

“Hei, Jaejoong.” Yunho berdiri, lalu melangkah mendekati Jaejoong yang sedang mengajari Jessica cara menari.

 

“Oh dear…” gumam Jaejoong dengan wajah sebal. Jessica tertawa melihatnya.

 

“Get your filthy hands of my sister.” Seru Yunho bersamaan memukul tangan Jaejoong.

 

Jaejoong memutar matanya, lalu mundur beberapa langkah. Membiarkan Yunho mengambil alih pekerjaannya.

 

Seul Gi tersenyum melihat kelakuan Yunho saat itu. Dari sini saja, sudah terlihat betapa besar rasa sayang Yunho pada Jessica.

 

“Thanks for coming.” Katie tiba-tiba bersuara. Membuat Seul Gi menoleh.

 

“A-i-it doesn’t matter. I’m glad to invited here,” Sahut Seul Gi sambil tersenyum. “And I’m sorry I don’t borrow anything or something.” Lanjutnya memelan.

 

“No, no,” Katie kembali berbicara. “You come, that’s enough.” Lanjut Katie lalu mencium pipi Seul Gi.

 

-o0o-

 

Valerie, we’re gonna go.” Yunho berdiri di depan kamar Jessica bersama Seul Gi.

 

Jessica menoleh, lalu tersenyum. “Thanks for the party.”

 

Yunho mengulum senyumnya, kemudian pura-pura berpikir keras. Jessica terkekeh kecil melihat expresi kakaknya itu. “Of curse. I’ll do anything to my beautiful sister I ever had.” Serunya lalu tertawa.

 

Jessica ikut tertawa mendengar sahutan kakaknya tersebut.

 

Yunho menatap Seul Gi yang berada di sampingnya. “I’ll go and get us a cab.” Ucapnya, lalu mengecup hidung Seul Gi.

 

Seul Gi hanya mengangguk dengan senyum manisnya. Setelah Yunho pergi, ia kembali menatap Jessica. “Boleh aku masuk?” tanyanya meminta izin.

 

Jessica mengangguk.

 

Sesaat Seul Gi terpukau melihat lukisan-lukisan dengan gaya artistic yang begitu hebat mengelilingi dinding kamar Jessica. Ia berhenti tepat di samping Jessica yang saat itu masih berusaha menyelesaikan salah satu lukisan yang sepertinya akan dipamerkan malam ini.

 

“That’s exactly him.” Seru Seul Gi ketika melihat lukisan yang menampilkan seorang Jung Yunho sedang duduk dengan sebilah rokok di tangan kanannya.

 

“I can’t believe he smokes in front of you.”

 

“Don’t worry, I’m not that impressionable.”

 

Jessica hanya tersenyum tipis.

 

“Em, so you’ve got an arts exhibition… tonight, right?”

 

“Yea.” Sahut Jessica singkat. Ia kembali melukis. Tapi kali ini dengan wajah datar. –kembali memikirkan seperti apa akhir dari kisah malam ini. Ia begitu yakin. Bahwa… orang itu… tidak akan datang. Tapi, ia masih saja sangat berharap.

 

“You mind if I come?” tanya Seul Gi pelan. Jessica menghentikan gerakan tangannya. “Ah, I understand if you don’t want some random girl there.” Sela Seul Gi cepat.

 

Jessica tersenyum kecil, kemudian beralih menatap Seul Gi. “You’re not random,” ucapnya masih dengan senyum kecilnya. “You’re Yunho’s girlfriend.”

 

Mendengar perkataan Jessica, Seul Gi terlihat mengulum senyumnya. Entah karena apa, tapi ia merasa senang.

Seul Gi mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berkata. “Okay. So, see you tonight.”

 

Jessica mengangguk sebagai balasan atas perkataan Seul Gi.

 

-o0o-

 

Yunho mengepalkan tangannya sambil menghentak-hentakkan.

“Just for 1 hour.” Ucapnya menekankan.

 

“I can’t promise.” Sahut orang diseberang sana.

 

Yunho menjauhkan ponselnya, lalu memaki benda itu tanpa suara. “Just 1 hour, Dad. No more.” Serunya lagi.

 

Sejenak hanya terdengar suara-suara berisik di seberang sana. Suara orang-orang yang sepertinya sedang sibuk dengan bisnis.

“Fine, just wait there.” Balas Yonghwa dengan nada tenang.

 

Hembusan nafas tidak sabar keluar dengan sangat tidak teratur dari hidung dan mulut Yunho. “You must come now!” serunya lagi dengan menekankan kata terakhirnya.

 

Lagi-lagi Yunho hanya bisa mendengar suara berisik dari ponselnya. “Dad!” teriaknya.

 

“Jung Yunho, just wait!” Yonghwa balas berteriak. “I’ll come.” Lanjutnya dengan nada yang kembali normal.

 

“Now?”

 

Terdengar desahan panjang diseberang sana. “I’ll come. So, just wait.” Ucap Yonghwa dengan nada lembut.

 

Namun, suara lembut Yonghwa saat itu, tidak membuat amarah Yunho mereda.

 

“You know?” Yunho kembali membuka mulut, lalu merapatkan giginya. “I can’t believe you!” desisnya tajam, kemudian langsung menekan tombol ‘end’.

Pernafasan Yunho masih tidak beraturan. Wajahnya memerah karena marah. Ia menoleh ke samping kanan ketika merasa ada tangan yang mengusap bahunya, seakan menenangkannya. Perlahan, senyum kecil mengembang di wajahnya.

 

“Ayo kita pergi sekarang. Jessica pasti sudah menunggu.” Ucap Seul Gi kemudian. Yunho mengangguk.

 

-o0o-

 

“Jessica, Mommy membawakan makanan kesukaanmu. Makanlah dulu, selagi menunggu Daddy tiba disini.” Kata Katie dengan senyumnya.

 

Jessica mengangkat wajahnya yang sedari tadi terus menunduk. Memperlihatkan expresi kecewa yang begitu dalam. Ia menatap ke sekelilingnya. Ibunya, Fabien, Yunho, Jaejoong, dan Seul Gi.

Orang itu… tidak datang. Benar-benar tidak datang. Dan tak akan pernah datang.

 

“Why you all lies to me?” tanya Jessica dengan notasi yang sangat rendah. Menunjukkan betapa kecewanya dia dengan semua yang terjadi malam ini.

 

“Jessica…”

 

Belum sempat Katie menyelesaikan perkataannya, Jessica sudah berdiri dari duduknya, dan melangkah pergi.

 

Valerie…”

 

–Bahkan Yunho pun di abaikannya.

Sedangkan Jaejoong… Tanpa babibu, ia langsung mengejar Jessica.

 

Yunho mendesah kesal. Dengan gerakan kasar, ia segera mengambil salah satu bingkai yang berisi lukisan Jessica.

 

“Yunho!” teriak Seul Gi ketika melihat Yunho langsung pergi setelah mengambil lukisan Jessica tadi.

 

Sementara Katie dan Fabien memilih untuk mencari Jessica.

 

-o0o-

 

Jessica terus melangkahkan kakinya pelan. Hiruk pikuk kota, menenggelamkan suara tangisnya yang begitu pelan, –menyakitkan.

Dibelakangnya, Jaejoong hanya diam. Mengikutinya tanpa bicara apapun. Ia tahu Jaejoong mengikutinya, hanya saja ia sendiri tidak sanggup lagi berbicara apapun. Bahkan hanya untuk meneriakkan kata ‘Pergi Kau!’-saja tak bisa.

 

“You ever like this, right?”

 

Langkah Jaejoong langsung berhenti. Matanya semakin tertuju pada Jessica yang berada di depannya. Membelakanginya sambil menundukkan kepala.

“W-what do you mean, Jessy?”

 

Jessica kembali menangis. Terlihat jelas dari tubuhnya yang bergetar.

 

“Jessica…” panggil Jaejoong pelan. Tidak ada sahutan. Hanya terdengar isakan pelan tangis Jessica. Dengan gerakan pelan, Jaejoong kembali melangkahkan kakinya menuju Jessica berdiri. Dan kini ia sudah berada di depan Jessica.

 

“I hate him. But-” Jessica menghentikan perkataannya ketika Jaejoong tiba-tiba memeluknya. Matanya membelalak.

 

“No, Jessica. You not.” Bisik Jaejoong pelan. “You can’t.”

 

Mata Jessica masih terbelalak. Masih kaget dengan perlakuan Jaejoong yang tiba-tiba itu.

 

“You say it. But, your heart can’t accept it.”

 

Mata Jessica mulai kembali mengecil. Air matanya kembali mengalir. Dan entah kenapa, kedua tangannya dengan santainya, melingkari pinggang Jaejoong.

“I wanna him to see me.” Ucapnya disela tangis. Ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada Jaejoong. Mengabaikan bahwa air matanya membasahi baju Jaejoong.

 

“Maybe not now. But believe me, one day he will conscious.” Balas Jaejoong dengan senyum kecil. Matanya menerawang. Sesungguhnya, ia mengatakan itu untuk dirinya juga.

 

Jessica tidak menyahut apapun. Tidak ada lagi percakapan yang terjadi antara mereka berdua. Hanya terdengar tangis pelan Jessica, dan bisikan lembut angin malam yang menyapa kulit mereka berdua. Begitu tenang. Dan menyakitkan.

 

 

 

===[TBC]===