Welcome all~~~~ ヾ(^∇^)ノ

DBSKMommy Jessy

 

Hallooooooo~~~~ /lambai-lambaiin tangan ala miss univ/ *plakk

 

disini… sebenernya aku gak tau mau ngisi apa •ԅ(°͡o°”)͡ƪ

tapi setelah dipikir-pikir, aku jadi pengen ngisi tentang…. aku! XD  dan tentu saja juga tentang blog ini ^^

satu-satunya blog yang serius aku urus \(˘▽˘)/

 

Sebelumnya, aku mau nyaranin… bagi antis Jessica Jung SNSD atau DB5K, atau dua-duanya ._.v atauuu membenci JaeSica couple.. sebaiknya OUT! /doh!/

bukan maksud mengusir, tapi daripada kalian enek atau gimana … jadi, lebih baik jangan mampir kesini ^^v soalnya blog ini penuh dengan mereka……

❀◕ ‿ ◕❀

 

Ok, dan bagi readers yang baru datang ataupun sering datang, aku akan sangat senang jika kalian mau memperkenalkan diri kalian di sini  (^Ő^)//

 

Dan bagi readers yang mau kenal aku /eeaaaa/ atau mau tau tentang bias-bias aku, klik di sini. hehe ԅ(ˆ⌣ˆԅ)

 

dan terakhir… bagi readers yang menemukan adanya FF yang di password, kalian bisa minta password nya di sini ! tapi dengan persyaratan : pernah comment di part sebelumnya (oˆڡˆ)o

 

Ok, sekian dari saya. wassalam~~

Jangan lupa tinggalin komen di setiap tulisan yang kalian baca, yaa~~ (✿◠‿◠)ノ

 

Sayonara…… (^ _ ^)/~~

Jessica

 

Arigatou Gozaimasu~~

 

[Series] It Was Always You (part 2)

Karena aku masih bingung bagaimana cara memperbaiki hasil tulisan yang kacau di wordpress, untuk sementara aku kasih filenya aja ya. Saran dong bagi yang tau bagaimana cara memperbaiki tulisan yang jadi kacau waktu mengcopas file di word ke sini 😦

 

part 02

Dan tolong tinggalin komentar yang setelah membaca. Komentar kalian sangat berharga 🙂

[Series] It Was Always You

Tittle : It Was Always You

Cast :

  • Jung Jessica
  • Kim Jaejoong

Other Cast :

  • Park Minyoung
  • Kim Myungsoo (L)
  • Im Yoona
  • Kwon Yuri
  • Jung Yunho
  • Park Yoochun

Genre : Angst, Family, Romance

Rated : PG

Length : Series

Disclaimer :

Author’s Note :

Hallo, masih ingat denganku? Kali ini aku membawa ff baru. Aku masih tidak tau mau benar-benar nulis lagi atau ini hanya sekedar selingan. Tapi yang jelas aku sekarang lagi ada mood buat ngetik ini.

Beberapa tahun terakhir ini aku sudah berpaling jauh dari korea. Dan karenanya aku jadi susah banget nemuin feel buat ff, oleh karena itu aku berhenti nulis. Aku tidak punya foto apapun tentang korea. Jadinya aku ga bisa bikin poster. Kalau ada yang mau bikinin, aku terima dengan senang hati. Hehehe

Mungkin akan ada banyak penulisan yang aneh atau abstrak. Aku sudah lupa bagaimana gaya penulisanku sebelumnya. Jadi aku mohon komennya untuk memperbaiki di part berikutnya. Dan lagi aku benar-benar dibuat stress dengan keadaan wordpress. Entah kenapa saat aku mengcopas tulisan dari word hasilnya jadi kayak begini. Plis kasih tau kenapa 😦

Baiklah, mohon bimbingannya dan selamat membaca~ 🙂

Read this too :

Teaser

Baca lebih lanjut

[Teaser]

7f7c11c531a536209febf2b0346d495d

Jung Jessica (17 years)

Putri sulung dari keluarga Jung Ji Hoon dan Kim Tae Hee.

Saat tahun ajaran baru kelas 2 SMA, Jessica pindah ke Seoul. Tujuannya tidak lain adalah menemui orang yang sangat dicintainya sejak kecil, Kim Jaejoong.

Ia mengenal Jaejoong sejak dia kecil. Akan tetapi saat umurnya 6 tahun, ia terpaksa pindah ke Amerika karena bisnis Ayahnya. Jessica sangat teramat menggilai Jaejoong.

Kepindahannya ke Seoul awalnya sangat ditentang kedua orang tuanya. Tapi setelah Keluarga Kim mengatakan akan membantu merawat Jessica selama di Seoul, akhirnya kedua orang tua Jessica mengizinkannya.

e408beead5a8f913b32c5b6b2c8a1596

Kim Jaejoong (18 years)

Putra sulung dari keluarga Kim Kwang Min dan Park Min Young.

Sangat cuek terhadap orang orang di sekelilingnya. Ia mewarisi otak pandai dari ayahnya. Dan poin plusnya, ia juga memiliki wajah tampan dan tubuh yang proporsional.

Jaejoong tau Jessica sangat menyukainya, akan tetapi ia merasa tidak bisa menyukai gadis itu. Ia benci gadis yang bodoh dan kekanak-kanakan.

Ia sangat kesal setiap kali Ibunya mengatur hidupnya atau berusaha menjodoh-jodohkannya dengan Jessica. Meskipun Jaejoong jenius, namun ia tidak cukup pandai memahami hatinya sendiri.

Baca lebih lanjut

[Series] Double Date? (part 15)

JaeSica

 

Tittle  :  Double Date?

Author  :  Kim Jiyeon

Cast  :

  • Jung Jessica
  • Kim Jaejoong
  • Lee Jaejin as Kim Jaejin, other

Other Cast :

  • Shim Changmin
  • Kim Taeyeon
  • Jung Yunho
  • Park Yoochun
  • Kim Junsu

Genre  :  Family, Friendship, Romance, Sad

Rated  :  PG

Length  :  Series

Disclaimer : Jung Jessica, Kim Jaejoong, Shim Changmin and Story line’s mine :p

Author’s Note : Ini baru aja selesai aku ketik, terus langsung aku post. Aku gatau kalau misalnya terdapat banyak typo, soalnya aku ciyusan gada baca ulang ._.v

Happy reading dan jangan lupa tinggalin komen bagi yang baca ^^)/

Oh iya satu lagi… ini mau sampai disini aja atau di lanjut? Aku sudah pusing mikirinnya -_-v terus jadi males ngeprotect. Kemaren-kemaren ada yang minta password, tapi malah ga komen. Ini kan bulan puasa, dan dari pada aku harus ngoceh-ngoceh ga karuan gegara masalah itu, jadi.. biarlah. Terserah saja… ._.

Yang pasti, kalau komen dikit, aku males ngelanjutin .___.v

Last… thanks for your attention~^^

Read this too :

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 | Part 12 | Part 13 | Part 14

 

===[DoubleDate?]===

 

Hyung…” Jaejin memegang tangan Jaejoong erat. Nafasnya naik turun. Ia merogoh sesuatu dari saku celananya. “I-ini-h mi-mi-lik-mu shhh. Be-beritahu ju-juga J-jessica te-tent-ang ka-lung inih.” Ucapnya terputus. Dysnea menyerangnya, dan ia benci itu!

 

Jaejoong menatap Jaejin bingung. Namun ia segera menerima kalung kunci miliknya itu. Menyimpannya di saku celananya.

 

Jaejin menutup matanya masih dengan nafas tersengal. Jaejoong menatap perubahan wajah Jaejin yang semakin memucat. Bibirnya mulai membiru.

 

“Bertahanlah Jaejin. Dokter akan segera datang.” Ucap Jaejoong menenangkan.

 

Jaejin mengangguk kecil, lalu kembali memegang tangan Jaejoong. Mengguncangnya pelan. “E-eomma… A-appa…

 

Jaejoong yang mengerti maksud perkataan Jaejin itu, langsung mengangguk. “Hyung akan menelepon Eomma dan Appa. Kau tenang saja.”

 

Jaejin lagi-lagi hanya mengangguk kecil.

 

Selang beberapa detik, pintu ruangan itu terbuka dengan kasar. Segerombol orang berpakaiaan putih masuk. Jaejoong mundur sedikit ketika orang-orang itu menggerubungi Jaejin.

 

Jaejin masih menutup matanya. Pernafasannya benar-benar kacau. Bibirnya bergetar.

 

“Siapkan ruang ICU!” teriak salah seorang Dokter yang baru selesai mengecek kondisi Jaejin.

 

“Ne!”

 

Jaejoong terdiam di tempat. Ia mengepalkan tangannya kuat. Ruang ICU? Apa ini pertanda buruk?

Jessica dan Taeyeon pun hanya bisa menatap orang-orang berseragam putih itu melewati mereka sambil membawa Jaejin dengan tergesa-gesa.

 

“Jaejin…” Jaejoong menggumam dengan tatapan kosong.

 

===[DoubleDate?]===

 

“Mana Jaejin?!”

 

Jaejoong melangkah ke arah Ibunya yang masih berteriak histeris. Lalu segera memeluknya.

 

Eomma tenanglah…” bisiknya pelan.

 

“Jaejoong…” tubuh Mrs. Kim yang awalnya tegang mulai melemas. “Apa yang terjadi dengan adikmu…” tanyanya pelan.

 

Jaejoong mengeratkan pelukannya. “Dia koma…”

 

Mrs. Kim kembali menangis.

 

“Ia memintaku menelepon Eomma dan Appa…” Jaejoong memberitahu. Mrs. Kim menegang mendengar perkataan Jaejoong tersebut. “Dimana Appa?” tanya Jaejoong kemudian.

 

Mrs. Kim tidak menjawab pertanyaan Jaejoong. Ia kembali menangis. Jaejoong pun ikut menangis –ia tidak tahan lagi menahan perasaannya untuk menangis, terlebih lagi melihat Eommanya yang sangat menangis.

 

Taeyeon ikut memeluk Jessica yang sedari tadi memeluk dirinya sendiri.

 

“Taeyeon-ah…”

 

“Tenang, Sica…” bisik Taeyeon lembut. Ia berusaha bersikap setenang mungkin. Ia tidak mau membuat suasana terlihat semakin menyedihkan. Apalagi kalau harus mengingat Jaejin kelelahan karena berlari bersamanya. Itu membuatnya merasa semakin bersalah.

 

-o0o-

 

Yunho dan Yoochun berlari menyusuri koridor rumah sakit yang sudah cukup familiar untuk mereka. Mereka terus berlari, mengabaikan orang-orang yang menatap mereka berdua.

 

Yunho dan Yoochun menghentikan langkah mereka ketika melihat Jaejoong yang duduk memeluk Ibunya, juga Taeyeon yang berpelukan dengan Jessica.

 

“Bagaimana keadaan Jaejin?” tanya Yunho langsung. Ia langsung pergi ke rumah sakit ketika Jessica memberitahunya tentang keadaan Jaejin.

 

Jessica menggeleng tanpa suara.

 

Yoochun memegang bahu Jaejoong seraya tersenyum hangat. Berharap senyumannya itu bisa menenangkan Jaejoong walau sedikit.

 

“Gomawo…” Jaejoong balas tersenyum tipis. Sedangkan Mrs. Kim masih saja menangis, –tidak menyadari kehadiran Yunho dan Yoochun.

 

“Dimana Junsu Oppa dan Changmin Oppa?”

 

“Mereka ada jadwal kuliah mendadak.” Yoochun menjawab pertanyaan Taeyeon.

 

Taeyeon mengangguk kecil.

 

“Sica…” Yunho duduk disamping Jessica yang sedari tadi hanya diam. Yunho menghela nafas berat, lalu segera menarik Jessica ke pelukannya. “Kita hanya bisa mendo’akan Jaejin dari sini.”

 

Jessica melingkarkan tangannya ke pinggang Yunho seraya mengangguk.

 

Yoochun dan Taeyeon berpandangan, lalu menghela nafas panjang. Mereka tidak tahu harus berbuat apa disaat seperti ini.

 

Suara pintu yang terbuka otomatis langsung mengundang perhatian orang-orang yang berada di depan ruang ICU itu. Mrs. Kim pun langsung berdiri tegap. Mendatangi Dokter yang baru keluar bersama perawat-perawat dari ruang ICU tersebut.

 

“Uisa, bagaimana keadaan anak saya?”

 

Dokter itu melepaskan masker dan sarung tangannya. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya bersuara. “Saya tidak bisa berkata banyak sementara keadaan pasien berada di tengah-tengah kemungkinan.”

 

Mulut Mrs. Kim menganga tidak percaya. Jaejoong, Jessica, Taeyeon, Yunho, dan Yoochun pun tidak kalah kaget mendengar apa yang dikatakan dokter tersebut. “Apa maksud anda?”

 

“Saya tidak bermaksud mengatakan hal yang buruk. Tapi saya harap anda siap menerima berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan terburuk.” Ujar Dokter itu kemudian permisi untuk pergi.

 

Mrs. Kim terdiam mematung.

 

Eomma…”

 

Sebelum Jaejoong sempat menyentuh bahu Ibunya itu, Ibunya langsung berbalik. Wajah sembab dan mata bengkak itu terlihat tidak bersahabat.

“Disaat seperti ini… dimana Ayahmu?!” teriaknya tiba-tiba. Membuat Jaejoong melangkah mundur.

 

Jaejoong baru saja akan membuka mulutnya, tapi Ibunya sudah berlari masuk ke ruangan Jaejin. Ia menghela nafas berat melihatnya.

 

Jessica dan yang lainnya terdiam melihat kejadian saat itu. Sepertinya Mrs. Kim masih sangat sensitive.

 

Appamu tidak bisa dihubungi?” Yunho membuka mulut setelah Jaejoong kembali menurunkan ponselnya dari telinganya untuk kesekian kalinya.

 

Jaejoong menoleh, lalu mengangguk lemas.

 

“Masih di Tokyo?”

 

“Entahlah.” Sahut Jaejoong pendek. “Ia tidak mengangkat teleponku sejak tadi.” Lanjutnya pasrah.

 

“Jadi bagaimana?” tanya Yoochun prihatin.

 

Jaejoong memaksakan sebuah senyum kecil. “Sebaiknya kita masuk dulu melihat keadaan Jaejin.” Ucapnya mengalihkan pembicaraan.

 

Yunho dan Yoochun berpandangan sesaat, lalu mengangguk setuju. Jessica dan Taeyeon pun melakukan hal yang sama.

 

“Jaejoong-ah, bagaimana?”

 

Jaejoong tersenyum, lalu melangkah ke arah Eommanya yang menggenggam tangan Jaejin erat. “Appa dalam perjalanan.” Bohongnya.

 

Mrs. Kim tersenyum mendengarnya. “Baguslah.”

 

Jessica melangkah mendekat, melihat keadaan Jaejin lebih jelas. Wajah pucat pasi, bibir memutih. Terlihat seperti mayat yang masih bisa bernafas.

Ia berusaha kuat untuk tidak kembali menangis. Ia tahu, jika ia menangis, itu hanya semakin memperburuk suasana.

 

“Jessica…”

 

Jessica menoleh ke arah Mrs. Kim yang memegang lengannya.

 

“Ne, ahjumma?”

 

“Bisakah kau menemani Ahjumma disini sampai Jaejin sadar?” pinta Mrs. Kim seraya tersenyum lemah.

 

Jessica terdiam sesaat. Ia menatap Yunho yang hanya dibalas Oppanya itu dengan anggukan kecil.

“Eo, tentu Ahjumma.” Sahutnya sambil tersenyum.

 

Mrs. Kim tersenyum lebar mendengarnya. “Gomawo, Jessica…”

 

Jessica hanya mengangguk dengan senyuman yang masih menghiasi wajah sedihnya. Jaejoong hanya diam melihat hal itu.

Ia menatap Jaejin dan lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang. Ia lelah melihat wajah Jaejin yang tidak berdaya ini. Ia saja lelah, apalagi Jaejin yang menjalaninya? Shh, ia tidak sanggup kalau harus memikirkan sejauh itu.

 

Dering suara ponsel berbunyi. Semua mata di ruang itu menatap ke arah sumber suara. Dan arah tatapan mereka semua tertuju pada Yoochun.

Yoochun terkekeh kecil. “Baiklah, aku permisi untuk hal ini.” Katanya sambil memperlihatkan ponselnya yang terus berkedip-kedip.

 

Yunho hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan salah satu sahabatnya itu.

 

Baru saja Yoochun keluar, tiba-tiba ia kembali masuk. Ia langsung berjalan ke arah Yunho dan membisikkan sesuatu. Mata Yunho membulat lebar bersamaan mendengar apa yang dikatakan Yoochun padanya.

 

Setelah itu, Yunho dan Yoochun menatap Jaejoong dan Mrs. Kim. Yoochun mengusap tengkuknya canggung. “Emm Ahjumma, tiba-tiba saja kami ada urusan mendadak. Boleh kami permisi?”

 

Jaejoong mengerutkan keningnya curiga. “Ada apa?”

 

“Hari ini…giliran kami mempresentasikan hasil penelitian kami minggu lalu. Kami lupa. Sepertinya kami harus segera kembali ke Universitas sekarang.” Jelas Yoochun dengan nada menyesal. “Mianhae…”

 

Mrs. Kim tersenyum mengerti. “Hm, tidak apa. Pergilah… Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk menjenguk Jaejin.” Ucapnya tulus.

 

Yoochun dan Yunho tersenyum, lalu segera pergi. Suasana pun kembali hening sepeninggalnya Yunho dan Yoochun.

 

-o0o-

 

Junsu menyenggol bahu Changmin pelan. “Hei, sebenarnya apa yang kau lakukan di Amerika bersama Jessica.”

 

“Tidak ada…”

 

“Ayolah Changmin-ah… aku sungguh begitu penasaran.”

 

“Tidak perlu penasaran. Tidak ada hal yang istimewa terjadi.”

 

Junsu cemberut mendengarnya. “Lalu apa yang kalian lakukan kalau tidak ada yang istimewa?” cibirnya.

 

“Kami hanya menemui orang tua kami.” Sahut Changmin tanpa sadar. Junsu terbelalak kaget mendengarnya. Changmin pun ikut terbelalak, baru menyadari apa yang ia katakan.

 

“Ada masalah apa?” tanya Junsu pelan. “Apa kau…”

 

Changmin menunduk. “Eo. Aku dan Jessica sudah menjelaskan semuanya kepada orang tua kami. Oleh karena itu, sekarang kami benar-benar sudah selesai.” Jelasnya pelan, dalam. Sebelum Junsu sempat bertanya apapun.

 

Mulut Junsu terbuka. Ia ingin berkata sesuatu, tapi tidak satupun kata yang keluar. Akhirnya ia memilih untuk diam.

Dan setelahnya, mereka tidak berbicara apapun lagi. Yang terdengar hanya suara angin yang menemani kegiatan mereka di depan Laptop.

 

-o0o-

 

“Ada apa? Kenapa kau berbohong?” Yunho mendengus kesal. Yoochun memperlihatkan senyuman tiga jari. Mengingat cara dia tadi mengelabui Jaejoong, Mrs. Kim, Jessica dan Taeyeon. Tadi ia hanya membunyikan ringtone ponselnya –seolah ada yang meneleponnya, padahal sebenarnya tidak.

 

“Aku sedang penasaran dengan satu hal besar.” Ucap Yoochun dan kali ini expresi wajahnya sudah berubah serius.

 

“Apa?” tanya Yunho malas.

 

Yoochun mengangkat ponselnya. “Lihat ini!”

 

Mata Yunho menyipit, membaca kata demi kata yang ada di layar ponsel Yoochun tersebut.

 

“Ini…”

 

“Jessica dan Changmin benar-benar berakhir. Tujuan perginya mereka berdua ke Amerika sesuai dengan apa yang kita prediksikan. Bukan untuk liburan atau semacamnya.” Jelas Yoochun cepat. “Kita harus menemui Changmin. Memaksanya menceritakan semua yang terjadi di Amerika mulai A sampai Z. Aku harus tahu!” lanjutnya tegas.

 

Yunho hanya bisa menghela nafas pasrah melihatnya. Inilah Park Yoochun. Kalau dia sudah penasaran terhadap satu hal yang sudah menarik perhatiannya, sekalipun ada orang yang berada diantara hidup dan matipun akan ia abaikan demi menyelesaikan rasa penasarannya. Tsk.

 

==[]==

 

Waktu sudah berganti pagi. Semalaman ini, Jaejin tidak menunjukan tanda-tanda kehidupan sama sekali kecuali nafas pelannya yang teratur.

Mr. Kim pun belum menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Berkali-kali Mrs. Kim menanyai Jaejoong, dan selalu dibalas Jaejoong dengan berbagai alasan yang pada akhirnya menimbulkan kecurigaan pada Mrs. Kim.

 

“Jaejoong-ah…”

 

EommaAppa pasti kemari. Eomma tenanglah. Mungkin ada hal yang membuat Appa terlambat kemari.” Ucap Jaejoong akhirnya.

 

Mrs. Kim mendesah kasar. “Selalu seperti ini. Kenapa Appamu selalu lebih mementingkan pekerjaannya?!” serunya marah.

 

Jaejoong dan Jessica berpandangan, dan lagi-lagi hanya bisa mengeluarkan nafas panjang mereka yang terdengar sangat lelah. Taeyeon sudah pulang sejak tadi malam.

 

Jaejoong mempersilahkan seorang perawat masuk setelah sebelumnya perawat itu mengetuk pintu.

Yah, sejak tadi malam sesungguhnya setiap 2 jam sekali perawat-perawat itu datang secara bergantian untuk mengecek keadaan Jaejin. Mengganti impus, memeriksa pasokan oksigen Jaejin, memeriksa suhu tubuh Jaejin, dan semacamnya.

 

Tidak lama setelah perawat itu keluar, pintu ruang ICU Jaejin terbuka dengan cukup kasar. Membuat Mrs. Kim, Jaejoong, dan Jessica terlonjak kaget.

Mereka bertiga langsung menatap ke arah pintu dan mendapati seorang lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan berdiri di depan pintu itu dengan nafas memburu.

 

Appa?” Jaejoong berdiri, lalu segera mendatangi Appanya itu. “Appa, kenapa kau ba-” perkataan Jaejoong terhenti ketika melihat Ayahnya mengangkat sebuah jimat kecil yang digenggam Ayahnya

 

Mrs. Kim dan Jessica pun terdiam menatap Mr. Kim.

 

“Setelah Appa membaca pesanmu, Appa langsung pergi ke kuil.” Jelas Mr. Kim masih dengan nafas tidak beraturan.

 

Jaejoong mengambil jimat kecil itu dan baru menyadari tangan Ayahnya begitu dingin. “Appa… kau…”

 

Appa tidak bisa tenang setelah kau mengirimi pesan tentang Jaejin yang sedang koma.” Mr. Kim kembali bersuara lalu melangkah ke tempat Jaejin terbaring.

 

Mrs. Kim yang berniat marah dengan Mr. Kim yang tidak kunjung datang, akhirnya mengurungkan niatnya. Ia langsung berdiri dan memeluk suaminya itu.

 

-o0o-

 

“Bisakah kita lupakan ini?”

 

Yoochun mendengus. Ia tidak puas. Belum puas. Benar-benar belum puas. Penjelasan Changmin, menurutnya masih belum sempurna, –masih ada yang disembunyikan Changmin.

 

Changmin menggerutu pelan. Menyadari fakta bahwa Yoochun tidak akan menutup mulut untuk berhenti bertanya padanya.

 

“Shim Changmin!” seru Yoochun nyaring. Membuat Yunho, Junsu, dan Changmin sendiri terlonjak kaget.

“Kau bilang kau mencintainya, lalu kenapa kau berhenti sampai disini?! Kenapa kau menyerah semudah ini?”

 

Hening.

 

Changmin terdiam. Ia tahu. Ia ingat bahwa ia pernah berkata begitu, tapi…

“Aku berhenti bukan karena menyerah. Tapi…” helaan nafas berat keluar dari mulut Changmin. Ia mendongak, menatap Yoochun sungguh-sungguh. “Aku berhenti karena aku berusaha untuk mengerti. Mengerti bahwa ia tidak pernah menyukaiku.” Lanjutnya dengan senyum miris.

 

Kali ini, giliran Yoochun yang terdiam. Perkataan Changmin yang terkesan sangat serius dan menyakitkan itu, berhasil membuatnya terdiam. –merasa bersalah.

 

“Kalau kau memang menyukainya, kau harus berusaha mendapatkannya. Melakukan apapun supaya kau bisa mendapatkan hatinya.” Ujar Yunho dengan senyum tipis.

 

Changmin menatap Yunho, ikut tersenyum tipis. “Ada kalanya kita harus menerima keputusan seseorang yang tidak pernah bisa menyukai kita, padahal kita sudah melakukan berbagai usaha. Dan di saat seperti itu, kita hanya bisa melepaskannya. Berharap ia mendapatkan kebahagiaannya, karena kita tahu ia tidak bahagia dengan kita.”

 

Yunho, Yoochun, dan Junsu terdiam mendengar perkataan Changmin saat itu. Sangat dewasa. Mereka tidak habis pikir kenapa Changmin yang dulunya terkenal sangat manja dan egois, sekarang berubah menjadi lebih dewasa dan lebih mementingkan orang lain.

 

“Aku sudah berusaha. Dan hasilnya tetap seperti ini. Oleh karena itu aku mengambil cara terakhir,” kata Changmin serak. Ia menangis. Ia tidak tahan lagi menahan rasa sakit di hatinya. “Yaitu, melepaskannya.”

 

Tiba-tiba saja Yoochun langsung memeluk adik sepupunya itu. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya bersuara. “Aku mengerti. Aku harap ini menjadi yang terbaik untuk kalian berdua.”

 

Changmin tidak menyahut. Hanya tangisannya lah yang terdengar di ruang apartement Yoochun itu.

Yoochun yang mendengar tangis Changmin saat itu, semakin merasa bersalah. Merasa bersalah karena telah memaksa Changmin untuk menceritakannya.

 

-o0o-

 

Jaejoong terjaga dari tidurnya ketika mendengar suara deru nafas seseorang yang terdengar sangat tidak teratur.

Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba membiasakan penglihatannya. Ia menyipitkan matanya, mencoba melihat lebih jelas ke arah orang yang menimbulkan suara deru nafas tidak beraturan itu.

 

Selang beberapa detik, ia langsung berdiri. Berlari ke tempat Jaejin yang berada tidak jauh darinya.

 

“Jaejin-ah…” panggilnya pelan. Tangannya langsung menggenggam tangan Jaejin erat.

 

Tidak ada sahutan. Hanya terdengar deru nafas yang semakin lama semakin tidak teratur. Bola mata Jaejin terlihat bergerak-gerak di balik kelopak mata. Akan tetapi, sampai detik ini, mata itu belum juga terbuka, –masih menutup rapat.

 

“Jaejin-ah… kau bisa mendengarku?” bisik Jaejoong, semakin mengeratkan genggaman tangannya.

 

Oppa…” suara serak seseorang membuat Jaejoong berbalik.

Ia diam. Mendapati wajah kacau Jessica di belakangnya yang terlihat ketakutan.

 

“Ada apa? Jaejin … kenapa?”

 

Jaejoong tersenyum kecil. “Tolong… Hubungi Appa dan Eommaku. Kemudian panggilkan Dokter.” ujarnya, tanpa menjawab pertanyaan Jessica.

 

Tanpa bertanya apapun lagi, Jessica langsung pergi memanggil dokter, menuruti perkataan Jaejoong. Lupa bahwa di ruang itu ada bell darurat.

 

Jaejoong kembali menatap Jaejin. Bola mata di balik kelopak mata itu masih bergerak-gerak. Seolah-olah berusaha untuk membuka mata, namun tidak bisa. Melihat hal itu, membuat Jaejoong ingin menangis. Kenapa terlihat sangat menyakitkan?

 

“Bertahanlah, Jaejin. Hyung tahu kau kuat.” Ucap Jaejoong, memberikan semangat.

 

Tidak lama setelah itu, sekumpulan orang berseragam putih –lagi-lagi– datang dengan gerakan terburu-buru.

 

“Tolong, mundur sebentar.” Seru seorang perawat pada Jaejoong. Jaejoong menurut. Ia mundur beberapa langkah. Menatap adiknya yang dikelilingi orang-orang berseragam putih itu.

 

Tubuh atas Jaejin sudah di penuhi berbagai selang kecil putih bening. Alat pendeteksi jantung, alat pendeteksi denyut nadi, infus, oksigen, dan benda-benda semacam itu, semuanya membelit di tubuh Jaejin.

 

Meskipun deruan nafas Jaejin masih tetap sama, tapi detak jantungnya justru semakin memelan. Dokter masih sibuk menempelkan defibrillator, sementara para perawat yang lain ada yang bertugas mengatur infusion pump, ada yang bertugas memberikan berbagai alat yang di perlukan, dan hal yang lainnya.

 

Hidung Jaejin yang tadinya hanya dipasangi ventilator, untuk membantu mengontrol pernapasan paru-parunya, sekarang sudah diganti dengan alat bantu untuk memberi Oxygen. Sesuai perintah dokter saat itu.

 

Tidak lama setelah itu, Mr. Kim dan Mrs. Kim datang. Mereka memang menginap di rumah atas permintaan Jaejoong. Karena menurutnya Ayahnya terlihat sangat kelelalahan.

 

“Bagaimana keadaan Jaejin sekarang, Jaejoong?” tanya Mrs. Kim langsung, sangat panik.

 

Jaejoong menggeleng pelan. Jessica juga melakukan hal yang sama ketika Mrs. Kim beralih menatapnya.

 

“Kami-sama, tolong lindungi Jaejin.” Gumam Mr. Kim pelan. Mrs. Kim, Jaejoong, dan juga Jessica secara bersamaan menatap Mr. Kim.

Mrs. Kim langsung memeluknya, sementara Jessica dan Jaejoong justru menundukkan kepala mereka. Berdoa di dalam hati. Mengharapkan hal yang sama pada dasarnya. –keselamatan Jaejin.

 

Deruan nafas Jaejin yang mulanya keras, mulai memelan. Suara dari bed side monitor pun mulai memelan.

Dokter dan para perawat disana saling bertatapan. Secara bersamaan mereka menghela nafas panjang yang terkesan pasrah.

 

“Jaejoong Hyung…

 

Suara pelan Jaejin yang tiba-tiba itu, membuat semua yang ada di ruangan menatap ke arah Jaejin.

 

Jaejoong langsung berlari ke tempat Jaejin, menggenggam telapak tangan Jaejin. “Hyung disini, Jaejin…” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Mata Jaejin terbuka dengan perlahan. Ia tersenyum kecil ketika melihat Jaejoong, lalu ia beralih menatap satu-persatu orang-orang yang berdiri di belakang Jaejoong. Ayahnya, Ibunya, dan… Jessica.

 

“Jessica…”

 

Jessica tidak berkata apapun. Ia hanya mendekati Jaejin dengan perlahan. Diam di samping Jaejoong.

“Ya… aku disini. Bertahanlah, Jaejin.” Ucap Jessica dengan senyum tipis.

 

Jaejin lagi-lagi hanya tersenyum kecil. Ia melepaskan genggaman tangan Jaejoong, lalu beralih memegang tangan Jaejoong. Dengan gerakan yang sangat pelan, ia meletakkan tangan Jaejoong di atas tangan Jessica. Menyatukan kedua tangan hangat dua orang di sampingnya itu.

 

“Jika aku sudah tidak ada, kalian harus bersama…” bisik Jaejin sangat pelan.

 

Jaejoong menggeleng pelan. “Jangan berkata yang aneh-aneh, Jaejin-ah…”

Jessica mengangguk. Air mata sudah mengalir di pipi mulusnya. Ia tidak sanggup. Ini kali pertama ia berhadapan langsung dengan orang yang sedang dalam keadaan seperti Jaejin saat ini.

 

Jaejin beralih menatap Ayah dan Ibunya yang kini berada di sisi samping tubuhnya. “Aku sangat menyayangi kalian…” ucapnya pelan.

 

Mrs. Kim mengangguk dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Mr. Kim juga mengangguk.

 

“Maafkan aku…” ucapnya lagi, kali ini senyumnya terlihat sangat sedih. “aku selalu menyusahkan kalian …”

 

Kali ini, Jaejoong, Jessica, Mr. Kim dan Mrs. Kim langsung menggeleng.

 

“Kau tidak pernah menyusahkan kami, Jaejin-ah…” ucap Mrs. Kim parau.

 

Kelopak mata Jaejin mengatup untuk beberapa detik, lalu kembali terbuka. “Aku tidak ingin mati…” ucapnya pelan, sangat pelan. Seolah-olah ia mengatakan itu untuk dirinya sendiri. Wajahnya terlihat sangat sedih, seakan ia sedang menampung berjuta-juta masalah dalam hidupnya.

 

“Jaejin, jangan berkata yang tidak-tidak!” bentak Jessica tiba-tiba.

 

Jaejin tersenyum kecil. Dengan gerakan yang sangat pelan, kedua kelopak matanya mulai menutup. Setetes air mata jatuh, menelusuri pipi pucatnya.

 

Dan seakan tidak cukup membuat semua orang di ruangan itu terkejut, mesin pendeteksi detak jantung Jaejin justru berbunyi nyaring. Suaranya datar. Memekikkan telinga siapapun yang mendengarnya saat itu.

Disaat bersamaan, suara tangis Mrs. Kim langsung pecah. Mr. Kim memeluk Mrs. Kim erat, mencoba menenangkan istrinya tersebut.

Jaejoong dan Jessica terdiam mematung. Tangan mereka masih bergenggaman satu sama lain. Tatapan mereka kosong. Air mata mereka mengalir tanpa suara, menyesakkan dada.

 

“Jaejin…” suara Jaejoong terdengar mengambang. Tangan Jaejin yang berada diatas tangannya semakin dingin.

 

Jessica menggerakkan kepalanya. Menatap mesin pendeteksi jantung yang saat itu hanya menunjukkan garis lurus datar. Kemudian ia kembali menatap Jaejin. Tidak perlu beberapa detik, air matanya kembali mengalir deras.

“Jaejin-ah…” bisiknya tertahan.

 

Sedangkan Dokter dan para perawat yang berada di sana, hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Menatap miris pemandangan di hadapan mereka.

 

 

 

===[DoubleDate?]===